SeputarDesa.Com, BANGKALA – Fenomena suara lantang anggota legislatif di dalam ruang sidang DPRD Bangkalan belakangan ini mendapat sorotan tajam. Meski terlihat vokal dan kritis saat rapat berlangsung, konsistensi keberpihakan mereka dipertanyakan saat berada di luar gedung dewan.
Praktisi hukum yang akrab disapa Rohman “Kak Tua Hukum” menilai gejala ini sebagai bentuk politik performatif yang hanya mengejar citra di depan kamera rapat, namun abai dalam aksi nyata di tengah masyarakat.
“Kita sering melihat anggota dewan tampak sangat hidup di ruang rapat. Suaranya lantang, kritiknya tajam, seolah-olah paling pro-rakyat. Tapi anehnya, suara itu hilang begitu pintu sidang ditutup. Mereka nyaris tak terdengar di publik, podcast, media sosial, apalagi turun langsung saat masyarakat butuh pembelaan,” ujar Rohman kepada media pada Selasa (07/042026).
Rohman menganalogikan perilaku oknum legislatif tersebut seperti seorang siswa yang sangat aktif bertanya di dalam kelas hanya agar mendapatkan nilai bagus dari guru, namun bersikap apatis dan “bodo amat” saat sudah berada di luar sekolah.
Secara teoritis, menurutnya, ini adalah perilaku rasional yang didasari kalkulasi untung-rugi pribadi, bukan atas dasar komitmen nilai atau integritas sebagai wakil rakyat.
“Kritik akhirnya bukan lagi bentuk keberpihakan, melainkan sekadar strategi politik. Mereka berani saat merasa aman, tapi diam seribu bahasa saat risiko politik mulai mengintai. Bahkan, ada yang mendadak defensif dan narsis menjaga citra ketika celah pribadinya mulai terendus lawan politik,” tegasnya.
Lebih lanjut, Rohman mengkhawatirkan tren politik performatif ini akan membuat rakyat hanya menjadi penonton dalam panggung sandiwara yang naskahnya telah disiapkan. Ia menekankan bahwa Bangkalan tidak kekurangan orang pintar di kursi dewan, melainkan kekurangan orang yang memiliki keberanian konsisten.
“Masyarakat tidak butuh pertunjukan. Masyarakat butuh keberanian yang tetap bersuara meski tanpa sorotan mikrofon, dan tetap berdiri meski tanpa tepuk tangan. Jangan kritis di dalam, tapi ‘bod amat’ di luar,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, Rohman menegaskan bahwa harapan publik masih ada, namun hanya bagi mereka yang berani konsisten.
“Rakyat pada akhirnya tidak menilai seberapa tajam kata-kata di forum rapat, tapi seberapa nyata keberpihakan itu terasa dalam kehidupan mereka sehari-hari. Harapan itu hanya akan hidup dari mereka yang berani sama kerasnya di ruang rapat maupun di tengah masyarakat,” tutupnya.









