SeputarDesa.Com, BANGKALAN – Potret buram infrastruktur di pelosok Kabupaten Bangkalan kembali memicu amarah warga. Warga Dusun Lajeren, Desa Tlokoh, Kecamatan Kokop, terpaksa turun ke jalan untuk melakukan perbaikan swadaya pada akses menuju Kampung Mokos dan Kampung Gersik, Selasa (07/04/2026).
Langkah nekat ini diambil karena kondisi jalan yang hancur lebur dinilai sudah mengancam nyawa pengguna jalan. Selain permukaan jalan yang tak lagi berbentuk, ketiadaan lampu penerangan di lokasi tersebut memperbesar risiko kecelakaan maut bagi warga yang melintas di kegelapan malam.
Di balik aksi swadaya ini, tersimpan kekecewaan mendalam terhadap tata kelola anggaran desa. Warga mulai lantang mempertanyakan dugaan ketidakterbukaan Pemerintah Desa (Pemdes) Tlokoh dalam mengelola Dana Desa (DD) periode 2024 hingga 2025, terutama di masa transisi kepemimpinan desa.
“Kami paham ada pemangkasan anggaran di tahun 2026. Namun, yang menjadi tanda tanya besar adalah ke mana larinya Dana Desa sepanjang 2024 sampai 2025? Digunakan untuk apa saja oleh Pemdes?” ungkap salah seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.
Pemerintah Desa Tlokoh juga dinilai diduga kurang proaktif dalam mengupayakan sumber pendanaan alternatif dari pemerintah pusat maupun provinsi. Warga menengarai adanya pembiaran terhadap infrastruktur vital karena Pemdes hanya terpaku pada kucuran Dana Desa tanpa melakukan terobosan politik anggaran.
“Seharusnya tidak hanya berpangku tangan pada Dana Desa. Ada program Pokmas (Kelompok Masyarakat) atau PISEW (Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah) yang bisa diakses jika aparat desa mau bekerja. Kondisi di Mokos dan Gersik ini seolah dibiarkan meski nyawa warga jadi taruhannya,” tegasnya.
Kepala Desa Tlokoh, Ghufron, memberikan tanggapan tegas terkait pengelolaan anggaran dan pembangunan di desanya. Dalam pernyataannya, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat yang ingin mengetahui rincian penggunaan Dana Desa (DD) tahun anggaran 2024 dan 2025 untuk datang langsung ke kantor Balai Desa atau kediamannya.
Langkah ini diambil sebagai bentuk transparansi Pemerintah Desa (Pemdes) Tlokoh dalam mengelola uang rakyat. Bahkan pihaknya mengapresiasi atas kepedulian masyarakat yang mau memperbaiki jalan secara gotong royong.
“Silakan datang ke rumah atau ke Balai Desa biar saya jelaskan semua. Kami terbuka bagi masyarakat yang mau tahu detail Dana Desa. Namun dengan adanya upaya gotong royong kami bersyukur atas kesadaran bersama dalam upaya memperbaiki Desa Tlokoh,” ujar Ghufron.
Ghufron menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya mengandalkan Dana Desa yang terbatas untuk memperbaiki infrastruktur. Ia mengaku terus “memutar otak” dan menjemput bola dengan mencari program-program pembangunan dari pemerintah pusat maupun provinsi, seperti Pokmas (Kelompok Masyarakat) hingga program PISEW (Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah).
“Demi jalan desa yang lebih baik, saya harus berusaha mencari program lain. Kami tidak diam, kami terus berupaya agar pembangunan di Tlokoh tetap berjalan maksimal,” tambahnya.
Sebagai bukti komitmennya, Ghufron menunjuk salah satu proyek yang telah terealisasi, yakni pengecoran jalan yang cukup panjang di wilayah arah selatan dari kediaman Bung Mahhur.
Proyek tersebut merupakan hasil usaha Pemdes dalam memperbaiki akses jalan desa yang selama ini menjadi kebutuhan vital warga. Ia berharap masyarakat dapat melihat upaya nyata yang dilakukan pemerintah desa dalam memajukan wilayah Tlokoh.
“Itu adalah usaha kami memperbaiki jalan-jalan yang ada. Kami selalu memikirkan cara terbaik demi kemajuan desa kami,” pungkasnya.











