SeputarDesa.Com, BANGKALAN – Munculnya surat himbauan dari Pemerintah Kabupaten Bangkalan untuk kegiatan “Gowes Ke Kantor” pada Jumat, 27 Maret 2026, diduga berpotensi memicu polemik di kalangan pegawai karena dianggap kurang mempertimbangkan kondisi riil di lapangan.
Pegiat media sosial, Aruf Kenzo, melontarkan kritik tajam yang mengindikasikan adanya kekhawatiran bahwa himbauan ini justru akan menjadi beban fisik tambahan bagi para ASN. Meski niat pemkab terlihat positif, Aruf menyinyalir adanya celah besar dalam implementasi aturan tersebut yang mungkin saja belum dikaji secara mendalam dari sisi teknis.
Penggunaan sepeda manual tanpa mesin diduga kuat akan menyulitkan pegawai yang domisilinya jauh, sehingga alih-alih bugar, mereka dikhawatirkan justru akan mengalami kelelahan ekstrem sebelum memulai jam kerja.
“Saya hargai niat sehatnya, tapi sepertinya realita di lapangan tidak seindah di atas kertas. Pegawai yang rumahnya belasan kilometer disinyalir bakal ‘tepar’ kalau dipaksa gowes manual, apalagi jika diduga harus lanjut kerja bakti,” ujar Aruf, yang tampaknya melihat himbauan ini sebagai bentuk “penyiksaan halus” jika tanpa pengecualian.
Selain masalah fisik, Aruf juga menengarai adanya risiko keselamatan jalan raya yang belum terjamin sepenuhnya di wilayah Bangkalan pada jam sibuk. Ia berasumsi bahwa tanpa pengawalan ketat, para pesepeda ASN mungkin akan terjebak dalam situasi lalu lintas yang membahayakan nyawa mereka di jalur-jalur utama.
Untuk meminimalisir dugaan kegagalan program ini, Aruf menawarkan solusi zonasi jarak yang dianggapnya lebih masuk akal untuk diterapkan. Ia juga menduga bahwa banyak kantor instansi yang mungkin belum memiliki fasilitas sanitasi memadai, sehingga pegawai yang berkeringat deras dikhawatirkan tidak bisa membersihkan diri sebelum melayani masyarakat.
Terakhir, Aruf berharap himbauan ini ke depannya lebih inklusif dan diduga akan lebih efektif jika memperbolehkan penggunaan sepeda listrik. Substansi pengurangan emisi seharusnya menjadi fokus utama, sehingga tidak muncul praduga bahwa himbauan ini hanyalah ajang “adu kuat betis” yang mungkin mengabaikan kesejahteraan esensial para pegawai.






