SaputarDesa.Com, BANGKALAN – Momentum bulan Syawal pasca-Ramadan sejatinya menjadi ajang pembuktian konsistensi ibadah bagi umat Muslim, terutama kalangan generasi muda.
Hal ini ditegaskan oleh tokoh pemuda sekaligus alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura, pada Minggu (22/03/2026).
Tujuan memberikan pesan mendalam khususnya bagi para santri dalam menjaga kesucian amal ibadah mereka.
Aruf Kenzo menekankan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan. Ia mengajak para pemuda dan santri untuk mengisi waktu dengan mempererat tali silaturahmi bersama sanak famili dan keluarga besar, ketimbang menghabiskan energi untuk hal-hal yang tidak produktif.
“Setelah sebulan penuh kita ditempa di madrasah Ramadan, jangan sampai momentum kemenangan ini justru dinodai dengan kegiatan yang berbau negatif. Fokuslah pada memperkuat silaturahmi dengan orang tua dan saudara,” ujar Aruf Kenzo dalam keterangannya.
Lebih lanjut, ia menyoroti fenomena euforia berlebihan yang kerap dilakukan sebagian pemuda, seperti aksi balapan liar atau kegiatan lain yang menjurus pada kemaksiatan dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Menurutnya, perilaku tersebut dapat mengotori kesucian amal yang telah dibangun dengan susah payah selama satu bulan berpuasa.
“Sangat disayangkan jika amal satu bulan suntuk harus tercampuri dengan hal-hal yang berbau maksiat atau balapan yang tidak ada manfaatnya. Mari kita jaga ‘piala’ kemenangan kita dengan akhlak yang baik,” tambahnya.
Aruf mengingatkan bahwa identitas sebagai seorang santri tidak boleh luntur meskipun sedang berada di luar lingkungan pesantren. Menurutnya, menjaga marwah almamater dan etika kesantrian adalah tanggung jawab moral yang melekat di mana pun berada.
“Status santri itu tidak libur. Jangan sampai ketika nanti waktunya balik ke pondok, kalian justru membawa ‘oleh-oleh’ etika yang buruk dari luar. Jagalah identitas kesantrian kalian di tengah masyarakat,” tegas Aruf Kenzo dalam unggahan videonya.
Ia juga memberikan peringatan keras terkait risiko salah pergaulan selama masa liburan. Aruf sangat menyayangkan jika ada santri yang gagal kembali ke pesantren hanya karena mengalami musibah yang sebenarnya bisa dihindari, seperti kecelakaan akibat balapan liar atau jatuh sakit karena gaya hidup yang tidak terkontrol.
“Sangat rugi jika perjuangan menuntut ilmu terhenti gara-gara kecelakaan atau sakit yang disebabkan salah pergaulan di luar sana. Jangan sampai niat kembali ke pondok untuk mengaji justru terhambat karena kelalaian sesaat,” pungkasnya.









