SeputarDesa.Com, BANGKALAN – Memasuki fase sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, kediaman tokoh masyarakat Bapak Punidin di Dusun Dangbiqih, Desa Mano’an, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, menjadi saksi bisu terjaganya sebuah tradisi mulia. Pada Selasa (10/03/2026).
Keluarga besar Aruf Kenzo kembali menggelar buka puasa bersama puluhan tetangga, sebuah rutinitas yang telah konsisten dijalankan selama puluhan tahun setiap tanggal 21 Ramadhan.
Acara diawali dengan suasana khidmat melalui pembacaan Surat Yasin dan Tahlil bersama, kemudian ditutup dengan untaian doa untuk para leluhur serta keselamatan warga desa. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama yang memberikan perspektif mendalam mengenai nilai-nilai agama dan sosial.
Dalam penyampaiannya, KH. Saningwar menekankan bahwa ritual buka bersama bukan sekadar ajang berkumpul, melainkan ibadah yang memiliki ganjaran pahala yang sangat besar. Beliau mengutip hadis mengenai keutamaan orang yang memberi hidangan berbuka (ifthar).
“Siapa yang memberi makan orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun. Inilah cara kita menjemput keberkahan berlapis di bulan suci,” jelas Kyai Saningwar di hadapan jamaah.
Hadir langsung dari Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-bata Pamekasan, Ustadz Ismail menguraikan urgensi tanggal 21 Ramadhan sebagai “pintu masuk” menuju puncak Ramadhan. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah SAW lebih mengencangkan ibadahnya saat memasuki sepuluh malam terakhir.
“Malam ke-21 adalah awal dari malam-malam ganjil di mana Lailatul Qadar tersembunyi. Barangsiapa yang menghidupkan malam ini dengan zikir, tahlil, dan mempererat persaudaraan, maka ia sedang mempersiapkan diri untuk menerima kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan,” urai Ustadz Ismail secara rinci.
Selaku penyelenggara dan perwakilan keluarga, Aruf Kenzo memaparkan sisi historis dan visi dari kegiatan ini. Baginya, mempertahankan rutinitas selama puluhan tahun bukanlah hal yang mudah tanpa niat yang tulus untuk menjaga persatuan.
“Kegiatan ini sudah berlangsung puluhan tahun, diwariskan dari orang tua kami. Tujuan utamanya satu: agar tali silaturahmi antar keluarga, sanak famili, dan tetangga tidak putus dimakan zaman. Kami ingin Dusun Dangbiqih tetap rukun, saling mengenal, dan saling membantu melalui wasilah Ramadhan ini,” tutur Aruf Kenzo.
Acara yang juga dihadiri oleh tokoh masyarakat Bahri serta para pemuda setempat ini diakhiri dengan santap buka puasa bersama dalam suasana kekeluargaan yang kental.
Tradisi ini menjadi potret nyata bagaimana masyarakat Desa Mano’an menjaga harmoni sosial sekaligus meningkatkan kualitas spiritual di penghujung bulan Ramadhan.












