SeputarDesa.Com, BANGKALAN – Puskesmas Kokop, Kabupaten Bangkalan, terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat melalui berbagai inovasi. Salah satu inovasi unggulan yang berhasil diterapkan adalah “Tombone Ati”, sebuah program pendampingan pasien Tuberkulosis (TBC) melalui sistem alarm pengingat minum obat yang telah terbukti meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.
Kepala Puskesmas Kokop, Hj. Zaitun Ermawati, melalui Didin selaku penanggung jawab program Tuberkulosis (TBC), menjelaskan bahwa Tombone Ati merupakan proyek inovasi yang dirancang untuk membantu pasien TBC mengingat jadwal konsumsi obat secara tepat waktu.
Menurutnya, inovasi tersebut memanfaatkan alarm yang telah diatur sejak awal sebagai pesan pengingat bagi pasien. Sistem pengingat ini berfungsi untuk menyegarkan ingatan pasien agar tidak lupa mengonsumsi obat sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Pengingat dapat berfungsi lebih baik apabila disampaikan pada waktu yang tepat dan dalam konteks yang relevan. Dengan fleksibilitasnya sebagai catatan kontekstual, alarm berbasis waktu menjadi alat manajemen waktu yang efektif untuk membantu pasien tetap disiplin menjalani pengobatan,” ujar Didin Pada Senin (15/06/2026).
Ia menjelaskan bahwa program Tombone Ati mulai diujicobakan pada awal tahun 2025 dan hingga kini masih terus berjalan. Selama pelaksanaannya, inovasi tersebut menunjukkan hasil yang sangat positif.
Berdasarkan data Puskesmas Kokop, tingkat keberhasilan pelaksanaan program mencapai 99 persen, di mana hampir seluruh pasien TBC mengonsumsi obat tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Lebih membanggakan lagi, sejak program ini diterapkan pada tahun 2025 hingga tahun 2026, tidak ditemukan pasien yang mengalami putus obat atau menghentikan pengobatan sebelum waktunya.
“Alhamdulillah, sejak inovasi ini diterapkan, pasien lebih disiplin dalam minum obat. Dari tahun 2025 sampai 2026 tidak ada pasien yang putus obat karena mereka selalu mendapatkan pengingat setiap hari,” jelasnya.
Didin menegaskan bahwa keberhasilan inovasi tersebut bukanlah hasil kerja individu semata, melainkan buah dari kolaborasi dan diskusi bersama Kepala Puskesmas Kokop dalam mencari solusi terhadap tantangan pengobatan TBC di masyarakat.
“Ini sebenarnya bukan hasil kerja saya sendiri, melainkan hasil kerja sama dan sharing bersama Kepala Puskesmas. Kemudian saya sebagai penanggung jawab program TBC melakukan uji coba sejak awal tahun 2025 hingga sekarang,” ungkapnya.
Ia juga menyebutkan bahwa inovasi Tombone Ati saat ini baru diterapkan di Puskesmas Kokop. Setiap puskesmas memiliki karakteristik wilayah dan kebutuhan pelayanan yang berbeda sehingga masing-masing mengembangkan inovasi sesuai kondisi di wilayah kerjanya.
“Untuk saat ini, Tombone Ati hanya ada di Puskesmas Kokop. Setiap puskesmas memiliki inovasi yang berbeda-beda sesuai kebutuhan dan tantangan pelayanan kesehatan di wilayah masing-masing,” tambahnya.
Melalui inovasi Tombone Ati, Puskesmas Kokop berharap dapat terus meningkatkan keberhasilan pengobatan Tuberkulosis, mencegah terjadinya resistensi obat akibat ketidakpatuhan pasien, serta mendukung program pemerintah dalam upaya eliminasi TBC di Indonesia.
Keberhasilan program ini menjadi bukti bahwa inovasi sederhana yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat mampu memberikan dampak besar terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan dan keselamatan pasien.










