Dulu Petik Gitar, Kini ‘Petik’ Kebijakan: Kisah Eks Musisi Dangdut yang Jadi Kabid SD di Bangkalan

SeputarDesa.Com, BANGKALAN – Dua dekade silam, hidup Ali Yusri Purwanto akrab dengan gemerlap lampu panggung dan keriuhan penonton musik dangdut bersama grup Shelometa. Jari-jemari Yusri lincah menari di atas dawai gitar, mengiringi biduan dan menjaga ritme panggung sebagai gitaris profesional. Namun kini, “irama” yang ia mainkan telah berubah total, Rabu (18/03/2026).

Pria yang akrab disapa Yusri ini telah menanggalkan atribut musisinya dan bertransformasi menjadi sosok krusial di dunia birokrasi. Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SD di Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan.

Mundur sekitar 22 tahun lalu, Yusri bukan orang baru di industri musik lokal. Menjadi gitaris grup dangdut Shelometa menuntut disiplin dan kepekaan rasa yang tinggi. Pengalaman itu diakuinya membentuk karakter yang kuat, terutama dalam hal kerja sama tim dan keberanian mengambil keputusan di bawah tekanan.

Meski kini disibukkan dengan berkas-berkas kurikulum dan kebijakan sekolah dasar, jiwa seni Yusri tidak luntur. Baginya, memimpin bidang pendidikan dasar hampir mirip dengan memimpin sebuah orkestra: setiap elemen harus selaras agar menghasilkan “nada” pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Bangkalan.

Transisi dari panggung hiburan ke dunia ASN hingga mencapai posisi strategis bukanlah hal yang instan. Ketekunan Yusri dalam bidang akademis dan manajerial membawanya dipercaya mengurusi masa depan pendidikan dasar di wilayahnya.

Sebagai Kabid Pembinaan SD, Yusri dikenal sebagai sosok yang adaptif dan komunikatif. Ia kerap terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk memastikan sarana prasarana serta kualitas pengajaran berjalan optimal. Misinya jelas: membawa standar pendidikan SD di Bangkalan naik kelas melalui inovasi dan manajemen yang humanis.

Kisah Yusri menjadi bukti nyata bahwa latar belakang masa lalu bukanlah batasan untuk meraih sukses di bidang yang berbeda. Dari dunia yang mengandalkan kemahiran jemari, ia kini mengandalkan kebijakan dan pemikiran demi mencerdaskan generasi penerus bangsa.

“Kuncinya adalah pengabdian. Jika dulu menghibur masyarakat lewat musik, sekarang melayani masyarakat melalui jalur pendidikan,” tutur rekan sejawatnya menggambarkan dedikasi Yusri.

Perjalanan Yusri adalah pengingat bahwa hidup adalah tentang perpindahan dari satu panggung ke panggung lainnya—dan di panggung pendidikan Bangkalan inilah, ia sedang memainkan komposisi terbaiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *